7.11.17

Kajian Tasawuf Atas Ayat-ayat Allah

0 komentar
Kajian Tasawuf Atas Ayat-ayat Allah

Berbicara tentang tasawuf telah banyak disampaikan di berbagai forum, tetapi tidak banyak menerangkan apa yang telah diperoleh dari kajian tasawuf itu sendiri terhadap ayat-ayat Allah.

Alhamdulillah bahwa Allah ternyata benar-benar telah menunjukkan akan kekuasaan-Nya kepada siapa yang Allah kehendaki untuk mengungkap akan kebenaran firman Allah.

Seorang ahli tasawuf adalah dia seorang ahli zikir, ahli hikmah dan ahlu thariqah.

Maka, atas keridaan Allah, seorang ahli tasawuf telah dianugerahi oleh Allah karunia yang banyak (khairan katsiran).

Saudaraku, tulisan-tulisan yang disajikan pada blog ini merupakan hasil langsung yang diturunkan Allah ke dalam hati penulis. Kajian tasawuf atas ayat-ayat Allah meluncur begitu saja.

Tanpa rujukan dari berbagai buku, kecuali Al-Quran, penulis menyajikan tulisan kajian tasawuf di blog ini untuk menjadi bukti akan kebenaran perkataan (firman) Allah dan sekaligus sebagai saksi:
"Allah menganugerahkan Al-Hikmah (pemahaman yang mendalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS. Al-Baqarah: 269).
"Al-Hikmah" begitulah Allah hendak menerangkan bahwa dengan Al-Hikmah atau kebijaksanaan-Nya, Allah menganugerahkan karunia yang banyak. 

Kepada siapakah Allah menganugerahkannya? Dalam ayat itu, sangat jelas Allah telah menunjuk orang-orang berakal (ulul albab). 

Allah telah mempertegas keterangan ayat tersebut di dalam Al-Quran pada ayat yang lain:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191).
Dari ayat-Nya ini, ada 4 (empat) karakteristik orang-orang berakal:

  1. Berzikir (mengingat Allah);
  2. Bertafakur (merenungkan) tentang penciptaan langit dan bumi;
  3. Bertasbih (memuji Allah sebagai Tuhan Yang Maha Suci) atas kekuasaan-Nya dalam penciptaan apa yang ada di langit dan di bumi;
  4. Berlindung kepada Allah (dari gangguan dan godaan setan) agar terjaga dari siksa api neraka.
Semua itu dilakukan dengan penuh keikhlasan di dalam hati, baik saat berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring. 

Kajian atas ayat-ayat Allah oleh ahli tasawuf menjadi sangat menarik karena diperoleh atas karunia dari Allah. Disajikan dalam tulisan tanpa merujuk kepada tulisan orang lain, kecuali Al-Quran yang telah ditunjukkan dan diterangkan secara langsung ke dalam hati.

Tidaklah berlebihan atau mengada-ada jika hal yang menjadi bukti nyata akan kebenaran firman Allah diungkapkan.

Karena itulah, judul blog ini: "Agama, Hati dan Ilahi" merupakan sebuah kajian tasawuf yang diturunkan berdasarkan keterangan yang hadir di dalam hati penulis atas keridaan Allah.

Untuk memberikan pencerahan lebih luas, penulis akhirnya berupaya -- atas seizin dan keridaan Allah -- mengelompokkan tulisan-tulisan yang ada di blog ini ke dalam topik yang sangat signifikan untuk menjadi renungan.

E-Book kajian tasawuf akhirnya dibuat untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan memperbaiki ejaan yang belum sempat dilakukan pada tulisan-tulisan di blog ini. 

Melalui proses penyuntingan yang dilakukan oleh penulis sendiri dan desain sebuah buku yang layak untuk dibaca, judul pada blog ini diangkat dengan ditambah keterangan judul, maka judul ebook ini menjadi: "Agama, Hati dan Ilahi: Sebuah Kajian Tasawuf Atas Ayat-ayat Allah."

E-Book kajian tasawuf ini dibuat setebal 511 halaman. 

Cukup tebal memang. Akan tetapi, ini bukan ebook biasa. Allah menganugerahkan karunia agar dapat diterangkan kepada kaum mukmin akan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Maka, atas kemahabaikan dan kemahamuliaan Allah, penulis berdoa untuk Anda yang memesan ebook kajian tasawuf ini dianugerahkan Al-Hikmah agar dapat memahami dengan mudah apa yang diterangkan di dalam ebook ini.

Berapa harga ebook ini?

Untuk mendapatkan ebook ini, Anda hanya perlu membayar:

Rp 99.000  

Mengapa harganya harus Rp 99.000?
Mengapa tidak dibulatkan menjadi Rp 100.000?

Harga yang saya tetapkan ini bukan strategi marketing, selain ada makna tersendiri. Angka 99 mengait kepada Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik). 
"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik)" (Qs. Al-Isra': 110). 
Bagaimana cara mendapatkan ebook ini? 

Sangat mudah dan praktis! 
Anda tinggal transfer ke rekening: 

BANK BJB 
Cabang Indramayu 
a/n Ahmad Yuli Yanto, Drs 
No. Rek. 0008474419100 


Untuk memudahkan identifikasi transfer, tambahkan tiga angka terakhir nomor handphone Anda pada jumlah yang ditransfer. Misalnya, bila nomor handphone Anda adalah 081324159458, maka jumlah yang Anda transfer adalah Rp 99.458,- 

Setelah transfer segera konfirmasi pembayaran via email yuliyanto30@gmail.com dengan subjek: "Pembayaran Ebook Agama, hati dan Ilahi" atau sms ke 081324159458 sertakan nama dan alamat email. 

Ebook akan dikirim via email paling lambat dalam waktu 2 x 24 jam setelah konfirmasi pembayaran.
Selengkapnya >>>

20.10.16

Memohon Petunjuk: Nilai Utama Munajat dalam Ibadah

0 komentar
https://agamahatidanilahi.blogspot.co.id/Bermunajat atau berdo’a adalah bermohon kepada Allah atas apa yang menjadi hajat atau kebutuhan kita. Perlukah kita bermohon kepada Allah Yang Maha Pencipta? Mengapa kita harus bermunajat? Tidak cukupkah apa yang sudah kita lakukan sehingga kita harus berdo’a? Sangat menarik apa yang telah dilakukan oleh kebanyakan kaum muslim dalam beribadah kepada Allah. Patutkah di dalam beribadah tak perlu berdo’a? Adakah nilai utama munajat dalam ibadah?

Menyembah dan Memohon Pertolongan 

Asumsi kaum muslim wajib berdo’a di antaranya lahir karena adanya kebutuhan terhadap apa yang tidak dapat dipenuhi segala kebutuhannya jika tidak ditolong oleh Allah. Menjadi sebuah kepastian bahwa manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhanya jika tiadanya pertolongan Allah. Pernyataan (firman) Allah akan tiadanya kekuasaan manusia dalam memenuhi segala kebutuhannya telah diterangkan pada ayat-Nya.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).

Allah Yang Maha Penyayang kepada kaum mukmin mengajarkan untuk dipahami dan diikuti bahwa jika beribadah hanya ditujukan kepada-Nya bukan kepada selain-Nya. Hubungan seorang hamba dengan Allah telah diikat oleh ketetapan yang difirmankan Allah di dalam kitab-Nya. Ketetapan Allah, sebagaimana ayat di atas, disebabkan masih banyak kaum mukmin yang beribadah kepada Allah dan kepada selain-Nya (syirik).

Oleh karena itu, jika Allah telah mengajarkan kepada umat Rasulullah saw agar “Hanya kepada-Mu kami menyembah," bermakna bahwa tak boleh sedikit pun di dalam hatinya terikat oleh selain Allah. Kekuasaan Allah atas seluruh hamba-Nya menyebabkan turunnya kemurkaan Allah jika hatinya masih terikat kepada selain-Nya. 

Ajakan untuk “Hanya menyembah kepada Allah,” telah diikrarkan. Konsekuensinya adalah setiap jiwa atau diri atau hati atau ruh kaum mukmin harus terikat oleh ikrar (perjanjian) tersebut. Penegasan Allah merupakan Hak Mutlak Allah atas kaum mukmin dalam beribadah kepada-Nya. Ibadah, dengan demikian, tidaklah hanya teraktualisasikan di tataran dhohir, melainkan harus benar-benar tertanam di dalam hati. Maknanya adalah pengakuan keimanan seseorang tak cukup diwujudkan dalam beribadah secara dhohir (syari’ah), melainkan juga hakikat atau yang sesungguhnya dalam beribadah. 

Arti ibadah secara lughowiyah (kebahasaan) adalah menunjukkan rasa pengabdian seorang yang telah mengaku beriman kepada Allah sebagai seorang hamba di dalam kedudukan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta. Pengabdian (Penghambaan) seorang hamba seharusnya diwujudkan dengan memuliakan Allah setulus hati tanpa keterpaksaan dan dilakukannya dengan cara merendahkan diri dan rasa takut. 

“Menghamba,” dengan begitu, berarti merendahkan diri, bukan menyombongkan diri di hadapan kemahabesaran-Nya. Allah Swt telah memuliakan Malaikat-Nya karena penghambaan (ibadah) kepada Allah tidak dilakukan dengan menyombongkan diri dan tidak pernah merasa letih. 

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (QS. Al-Anbiyaa’: 19). 

Patutkah umat Rasulullah Saw harus menyombongkan diri dalam beribadah? Jawabnya tentu tidak! Akan tetapi, dalam prakteknya, masih banyak yang merasa bangga diri dalam beribadah kepada Allah. Apa indikasinya? Wujud seorang telah menyatakan diri sebagai mukmin adalah tidak adanya keraguan sedikit pun atas apa yang difirmankan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Prakteknya justru banyak muncul keragu-raguan atas ayat Allah ketika Allah berkehendak atas diri kaum mukmin untuk tidak pernah melupakan Allah di dalam hatinya. 

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raaf: 205). 

“Melupakan” Allah berarti meniadakan Dia Yang Maha Goib. Kita sering mengabaikan apa yang menjadi kehendak-Nya karena menganggap Allah tak dapat dicapai oleh penglihatan (dhohir). Sedangkan Allah Swt sangat menghargai seorang hamba karena dalam beribadah dilandaskan dengan ketulusan hatinya sekali pun Allah tidak dilihat oleh mata dhohirnya. 

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu)” (QS. Faathir: 18). 

Bermunajat kepada Allah adalah salah satu wujud ketidakberdayaan kita terhadap apa yang tidak dapat kita penuhi. Maka, bagi kaum mukmin, Allah lah yang menjadi sandaran-Nya. Akankah kaum mukmin telah benar-benar memahami apa yang dikehendaki oleh Allah terhadap ketetapan-Nya bahwa Allah “Dapat Memenuhi segala yang dibutuhkannya?” Alangkah ruginya jika Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana telah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pemberi lagi Maha Penyayang direspon dengan tidak setulus hati. Adakah hati kita meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa sesungguhnya Allah sangat dekat ke hati daripada urat leher hamba-Nya? 

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (QS. Qaaf: 16). 

Sudah sangat jelas bahwa hatilah yang dijadikan ‘media’ oleh Allah dalam mendekati seorang hamba, dan bukan ke dhohirnya (akalnya). Oleh karena itu, tidaklah cukup kita hanya mengucapkan “Allah” di lisan, tetapi di hatinya tiada. Adakah di dalam solat, sebagai salah satu wujud utama dalam beribadah kepada Allah, kita mengagungkan Allah di lisan, sedangkan hatinya tidak diikutsertakan memaklumi bahwa memang demikian lah Allah itu (Agung)? 

Adakah di dalam beribadah seorang mukmin memohon kepada Allah pertolongan dengan setulus hati? Allah Yang Maha Bijaksana telah mengajarkan untuk segenap kaum mukmin agar mengikuti apa yang telah difirmankan-Nya, bahwa “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Karena sesungguhnya manusia pada mulanya tidak mengetahui apa-apa terhadap apa yang dikehendaki Allah, maka turunnya ayat ini menjelaskan agar “Tidak menyembah kepada selain Allah, juga sangat dilarang memohon pertolongan kepada selain-Nya.”

Pengajaran Allah melalui firman-Nya tersebut diarahkan agar kaum mukmin tidak boleh melupakan diri-Nya yang telah mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Karena itu, pengajaran untuk hanya menyembah kepada Allah tidak boleh dipersandingkan dengan memohon pertolongan kepada selain-Nya. Adakah kaum mukmin tidak memahami bagaimana Allah mengajarkan hal demikian?

Baca: Pengajaran Al-Quran

Saya meyakini tidak seluruh kaum mukmin memahaminya. Andaikan semuanya paham, maka seharusnya menjalani apa yang dipahaminya. Jika tidak, maka sesungguhnya tidak menyadarinya. Atau, jika tidak menyadari, maka kebanyakan kaum mukmin melalaikannya. Sekali saja kaum mukmin melupakan-Nya, maka mereka akan melupakan apa yang telah dipahaminya. Pemahamannya tetap ada, tetapi pengamalannya yang tidak ada. 

Sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, maka Allah berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan-Nya. Bagaimanakah cara orang menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah adalah bagaimana pula orang meresponnya dengan tingkat keyakinannya. Maka, tak heran jika antara satu orang atau satu kelompok berbeda tingkat keyakinannya dengan satu orang atau satu kelompok lainnya, berbeda pula dalam mengamalkannya. 

Do’a Memohon Petunjuk 

Ketidakberdayaan kita atas pemenuhan keinginan tidak seharusnya dijalankan seolah-olah mampu dengan sendirinya, melainkan sepatutnya memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Keinginan manusia, ternyata, berbeda dengan kehendak Allah. Keinginan diri (nafs) cenderung mengajak kepada kejahatan kecuali nafs (nafsu) atau diri yang dirahmati oleh Allah.

Maka, apabila keinginan diri didahulukan, jelas tidak akan berkuasa mendatangkan rahmat atau kemanfaatan bagi diri itu sendiri. Berbeda jika mendahulukan kehendak-Nya. 

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman" (QS. Al-A’raaf: 188). 

Hanya dengan kehendak Allah lah rahmat atau kemanfaatan dapat diraih. Adakah setiap diri dapat memperoleh kemanfaatan jika dilandaskan atas keinginannya sendiri? Alangkah tidak bijaksananya jika pernyataan Allah harus dihadapkan dengan ketidakmampuan akal manusia yang tidak dapat menjangkau hal-hal goib. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Megetahui telah menjelaskan bahwa Allah lah yang menjadikan diri mampu menjauhkan dari kejahatan karena rahmat-Nya. 

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Yusuf: 53). 

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Adakah kita tidak patut bersyukur atas rahmat Allah? Alangkah sombongnya kita bila tidak pandai berterima kasih jika apa yang selama ini dianugerahkan oleh Allah kepada kita segala kenikmatan. Ayat-ayat Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana telah diturunkan untuk menjelaskan hal-hal yang akal tak mampu mengetahuinya dengan sebuah kepastian, melainkan dugaan semata-mata. Kepastian akan segala yang difirmankan-Nya menjadikan manusia beroleh keberuntungan. Setiap perkataan-Nya senantiasa mengandung Al-Hikmah dan keberkahan. Maka, mengikuti firman Allah berarti telah mengikuti petunjuk-Nya. 

Akan tetapi, petunjuk Allah di dalam kitab-Nya ternyata membutuhkan petunjuk lagi yang didatangkan Allah ke dalam diri atau jiwa atau hati atau ruh kita. Mengapa? Ayat-ayat Allah begitu sulit untuk dijangkau hanya dengan menyandarkan kepada keterbatasan akal. Karena itu, sangat bijaksana apabila ayat-ayat Allah yang telah dengan jelas (muhkamat) menerangkan kepada kaum mukmin diikuti. Misalnya, kelanjutan ayat memohon pertolongan hanya kepada Allah yang sudah disebut di atas (QS. Al-Fatihah: 5), Allah Swt berfirman: 

 “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6). 

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. Al-Fatihah: 7). 

Ayat ini sangat mengait dengan ayat sebelumnya, bahwa bermohonlah pertolongan kepada Allah agar ditunjuki ke jalan yang lurus, bukan jalan yang dimurkai dan jalan yang sesat. Bermohon kepada Allah jangan disandarkan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu dunia, melainkan mengikuti apa yang menjadi kehendak Allah, yakni “Jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah dianugerahkan oleh Allah kenikmatan.” Ada nilai utama yang diperoleh dalam bermunajat kepada Allah sekiranya yang dimohonkan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah sendiri. 

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah Do’a Memohon Petunjuk 

Allah…Allah…Allah Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui 
Diri-Mu adalah Allah Penguasa manusia yang berada di muka bumi 
Tak satu pun makhluk yang mengalahkan kekuatan-Mu 
Makhluk mana pun pasti tunduk dan kalah dengan keperkasaan-Mu 
Adakah manusia yang dapat menandingi kekuasaan-Mu? 
Pasti tak mungkin ada, mustahil baginya Apakah aku dapat mengabaikan-Mu? 
Padahal Engkau adalah Tuhanku Tak mungkin ya Allah aku menjauh dari diri-Mu 
Andaikan aku melupakan-Mu, sudah pasti diriku merugi 
Sungguh Engkau adalah satu-satunya harapanku 
Di kala aku membutuhkan-Mu, aku selalu memohon kepada-Mu 

Duhai Allah Yang Maha Adil dalam berketetapan 
Diriku hanyalah hamba-Mu yang tak memiliki apa-apa sangat faqir, lemah tak berdaya 
Sekiranya Engkau mengambil nyawaku, aku pun tak dapat menghalanginya 
Aku hanya mengenal-Mu dari adanya ciptaan-Mu 
Tetapi aku tetap yakin akan diri-Mu, ya Allah 
Engkau sangat adil lagi bijaksana 
Mana mungkin aku dapat mengenal-Mu jika tidak Engkau beri aku petunjuk? 
Tak mungkin ya Allah 

Allah…Allah…Allah 
Kini, aku menghadap kepada-Mu dengan penuh harap akan janji-Mu 
Bahwa Engkau akan menunjuki kepada jalan-Mu yang lurus 
kepada siapa saja yang senantiasa patuh dan ta’at akan perintah-Mu 
Tetapi, ya Allah 
Diriku ini tak tahu apa pun bila tidak Engkau tunjukkan kepada jalan-Mu yang lurus 
Sementara aku adalah hamba yang senantiasa memohon kepada-Mu 
dengan caraku yang sangat bodoh 
Diriku adalah seorang manusia biasa yang tak pandai bagaimana cara menaati-Mu 
Hanya saja aku tahu bahwa Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang 
Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar 
Engkau adalah Tuhan Yang Mencintai hamba-Nya yang berserah diri 

Duhai Allah Yang Maha Menyayangi hamba-Mu 
Berilah aku petunjuk-Mu, sekalipun diriku tak berani berjanji kepada-Mu 
untuk menjadi hamba-Mu yang ta’at 
Justru dengan petunjuk-Mu aku dapat mengerti bagaimana aku menjadi hamba-Mu 
yang selalu patuh dan tunduk kepada-Mu ya Allah 
Sekiranya tidak Engkau kabulkan do’aku ini bagaimana aku akan mengikuti 
perintah-Mu ya karim 
Aku hanyalah hamba-Mu yang lemah, lagi tak tahu apa-apa 
Adakah selain kepada-Mu aku harus bermohon? 
Allah, itu mustahil bagiku 
Tak pernah ada di hatiku selain menyebut nama-Mu Yang Maha Mulia 

Duhai Allah kabulkanlah do’aku, amin. [ ]
Selengkapnya >>>

8.10.16

Aplikasi Petunjuk Allah

0 komentar
https://agamahatidanilahi.blogspot.co.id/
Kelebihan orang-orang yang memperoleh petunjuk dibandingkan dengan yang belum mendapatkannya, satu di antaranya, adalah petunjuk tersebut dapat membantu orang-orang yang mendapatkannya mampu berbuat sebagaimana hatinya, bukan apa yang ada di dalam akalnya. Mengapa demikian? Kelebihan orang-orang yang memperoleh petunjuk bukan karena akalnya yang dipandang memiliki kelebihan, melainkan Allah telah memancarkan cahaya-Nya ke dalam hatinya.

Milik siapakah petunjuk itu? Jawabnya adalah milik Allah. Karena itu, jelaslah bahwa petunjuk tersebut bukan milik manusia. Manusia hanya memahami petunjuk karena ada suara di dalam hatinya, bukan di akalnya. 

Lantas bagaimanakah sepatutnya petunjuk yang ada tersebut diaplikasikan dalam kehidupan di dunia ini? Pintu hati orang yang telah dibuka oleh Allah sehingga mendapati petunjuk dari-Nya, sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, selain harus benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan bukan kemudaratan. 

Petunjuk dianugerahkan oleh Allah dimaksudkan untuk membimbing seorang hamba tidak salah mengaplikasikan kehidupan sebagaimana yang dikehendaki Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. “Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Al-Baqarah: 38). 

Allah swt telah berjanji, saat Adam a.s diturunkan ke bumi karena rayuan iblis laknatullah ‘alaih, bahwa bagi siapa pun kaum mukmin yang mengikuti petunjuk-Nya, maka baginya tidak ada kekhawatiran dan bersedih hati. Adakah setiap petunjuk yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana kepada siapa yang dikehendaki-Nya adalah sebagaimana ayat tersebut? 

Benar. Ayat adalah perkataan Allah. Mustahil Allah berkata-kata tidak benar. Apa yang dikatakan-Nya pasti benar. Karena itu, jika Allah berkata-kata sebagaimana ayat tersebut di atas, maka sama sekali tidak salah. Bahwa orang-orang yang mendapati petunjuk lalu mengikutinya, mereka akan terhindar dari rasa khawatir dan bersedih hati. 

Al-Quran adalah petunjuk Allah yang diturunkan untuk menerangi kaum mukmin agar dapat menjalankan apa yang menjadi kehendak-Nya. Dengan petunjuk yang diperoleh dari Al-Quran, maka sudah seharusnya orang-orang beriman mengaplikasikannya. 

Apabila petunjuk Allah yang ada di dalam Al-Quran tidak diindahkan sampai tidak mengaplikasikannya, maka sulit bagi kaum mukmin mendapati petunjuk dari Allah secara langsung. Petunjuk yang diturunkan oleh Allah secara langsung tersebut dipancarkan ke dalam hatinya.

Petunjuk dari Allah yang dipancarkan ke dalam hati kaum mukmin merupakan sebuah karunia Ilahi. Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana hendak menunjukkan akan kedudukan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa. Dengan kedudukan-Nya tersebut, maka tak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya. 

Dunia saat ini (alam realitas) bukanlah dunia sebagaimana yang tidak dapat dijangkau oleh akal makhluk-Nya (manusia). Akal hanyalah diciptakan untuk mengerti apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Karena itu, manusia yang dikarunia akal cerdas tidak sepatutnya tidak juga mengerti untuk apa Allah berada di dalam kekuasaan-Nya menciptakan langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya. 

Akal yang bijaksana selalu saja merenungkan penciptaan langit dan bumi, termasuk dalam penciptaan dirinya (manusia yang telah diberi akal). Tidaklah disebut telah berakal jika ada manusia yang telah diberi akal tidak juga mau merenungkan apa yang menjadi kehendak Allah. Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang seperti itu. 

Apabila ada di antara manusia diberi petunjuk oleh Allah, maka sesungguhnya Dia (Allah) menolong orang tersebut agar tidak lagi mendustai ayat-ayat-Nya. Petunjuk dari Allah sangat berbeda dengan petunjuk yang diperoleh dari makhluk-Nya. Dalam hal ini, petunjuk yang diturunkan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya akan dipancarkan ke dalam hati sanubarinya. Sekali lagi bukan ke akalnya. 

Tanda-tandanya, di antaranya, adalah orang terbut tidak pernah melupakan Allah (zikir) di hatinya. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana selalu saja disebut-sebut di dalam hatinya di setiap keadaan dan waktu sepanjang hidupnya. Keikhlasan untuk mencintai Allah di dalam hatinya telah menetapkan kedudukannya sebagai orang yang Allah juga akhirnya mencintainya.

Mengapa Allah akhirnya mencintainya? Karena dia telah mengikuti perintah Allah di dalam Al-Quran. “Jika kamu mengingat-Ku, niscaya Aku pun mengingatmu.” Allah adalah Tuhan yang selalu menepati janji-Nya. Alhasil, Allah pun tak pernah membiarkan hamba-Nya yang benar-benar mencintai-Nya, melainkan Allah pun rida membimbing hamba-Nya dengan petunjuk-Nya. 

Seorang hamba yang tetap mendapati petunjuk dari Allah di dalam hatinya, dialah orang yang telah mencapai takwa. Al-Quran telah menjelaskan tentang ciri-ciri orang bertakwa pada surat Al-Baqarah ayat 2 - 5. Pada ayat kelima, Allah swt menegaskan: “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Baqarah: 5). 

Orang-orang yang tetap mendapati petunjuk dari Allah pasti menjadi orang yang beruntung. Orang yang beruntung adalah orang yang telah dilepaskan oleh Allah dari dalam kerugian (ingat surat Al-‘Ashr). 

Sebaliknya, orang-orang yang tidak mendapati petunjuk, mereka itulah orang-orang yang merugi. Kerugianya adalah Allah tidak rida atas apa pun yang telah diperbuatnya, diucapkannya dan yang disembunyikannya. Mengapa begitu? 

Pertanyaan semacam ini tidak sepatutnya terlontar dari orang-orang yang akalnya cerdas. Pemahamannya tentang ayat-ayat Allah sesungguhnya telah melampaui dari kebanyakan orang-orang yang belum diberi kesempatan oleh Allah dengan IQ yang tinggi. Bagi mereka Allah me-mafhum-inya (memberi pemaafan). Mereka tidak memahami dengan akalnya atas ayat-ayat Allah dan hadis Nabi-Nya. Bagi mereka, Allah-lah yang berhak menetapkan pembalasannya. 

Kita sesungguhnya tidak dapat mempengaruhi hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebagai seorang mukmin, kita hanya dapat berkata: “Sami’na wa atha’na” – kami dengar dan kami taati. Keterikatan janji antara seorang hamba dengan Allah tak patut diingkari. Apa pun yang menjadi kehendak Allah harus diikuti dan dipatuhi. 

Petunjuk Allah di dalam Al-Quran sudah sangat jelas akan perintah dan larangan-Nya. Kekuasaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta tidak dapat dipermainkan. Semuanya telah jelas. Apabila ada seorang hamba yang berupaya mendustai ayat-ayat-Nya, maka Allah pasti akan membalasnya dengan siksa yang sangat pedih. 

Petunjuk dari Allah yang diperuntukkan bagi kaum muttaqin juga sangat jelas. Semuanya termaktub di dalam hatinya. Keutamaan kaum muttaqin merupakan wujud akan keluasan kasih sayang Allah atas perjuangannya dalam mengikuti petunjuk Allah di dalam Al-Quran. 

Kaum muttaqin adalah kaum mukmin yang telah berjuang dengan sungguh-sungguh menjalankan apa yang menjadi perintah Allah dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Keutamaan mereka dianugerahkan Allah atas dasar ketundukan dan kepatuhannya terhadap apa yang menjadi kehendak Allah. Mereka bukanlah tipikal orang yang selalu menyoal atas kehendak Allah pada dirinya. 

Ujian dan cobaan tidak menyurutkan akan ketaatan dalam beribadah kepada Allah. Hidupnya telah dipasrahkan kepada-Nya. Tidak berjuang memaksakan diri melampaui batas kemampuannya. Apa yang tak sanggup memikulnya atas ujian yang didatangkan oleh Allah, mereka tak pernah berkeluh kesah. Sebaliknya, mereka akan segera menemui Allah melalui peribadatan yang disertai dengan berdoa memohon pertolongan-Nya. 

Mereka juga tak henti-hentinya berzikir kepada Allah di waktu pagi dan petang. Bahkan di waktu duduknya, berdirinya dan berbaringnya. Tidak ada kata berputus asa. Apa yang dihadapinya di dalam kehidupan dilalui dengan penuh khidmat bersandar kepada keluasan kasih sayang Allah. 

Singkat kata, kaum muttaqin adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah di dalam Al-Quran yang diturunkan melalui Jibril as kepada rasulullah saw sampai akhirnya Allah pun rida menurunkan petunjuk-Nya secara langsung ke dalam hati kaum muttaqin. Dan Al-Quran pun berkenan menjadi sahabat setianya. []
Selengkapnya >>>

6.10.16

Mukasyafah Sang Sufi

0 komentar
https://agamahatidanilahi.blogspot.co.id/
"maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna" (QS. Maryam : 17).

Ayat ini menerangkan tentang posisi Ibunda Maryam saat berada di tempat persembunyiannya (mihrab) dari keramaian manusia. Allah swt menurunkan Jibril as. yang menjelma sebagai manusia. Kedatangan Jibril as. membawa pesan dari Tuhannya mengenai keberadaan dirinya (Maryam) bahwa dia akan mempunyai seorang anak, namanya Isa Putra Maryam.  

Ayat ini mengilhami banyak kaum sufi bahwa perbuatan Allah azza wa jalla kepada Ibunda Maryam pasti dapat berlaku bagi siapa pun. Diketahui bahwa Ibunda Maryam bukanlah seorang nabi. Akan tetapi, beliau, sebagaimana nabi, diajarkan oleh Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril as. Al-Kitab, Taurat, Injil, dan Al-Hikmah.  

Kebijaksanaan Allah swt mengajarkan Ibunda Maryam melalui Jibril as. sebagai bukti bahwa Allah berbuat dengan keluasan ilmu-Nya. Allah swt berfirman:  "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil" (QS. Ali Imran : 48).  

Subhanallah. Allah swt sesungguhnya Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Sekalipun beliau bukanlah Nabi-Nya, tetapi untuk memudahkannya mengetahui kemahabesaran Allah, Ibunda Maryam diajarkan, di antaranya Al-Hikmah, sehingga mengerti pesan-pesan petunjuk yang disampaikan oleh Allah melalui malaikat-Nya yang mulia. 

Kita dapat mengetahui bahwa Allah swt menurunkan malaikat-Nya bukan hanya dianugerahkan kepada para Rasul-Nya saja, tetapi juga manusia lainnya. Maka, kita pun mengerti sekiranya Allah juga menurunkan ruh-ruh suci (dari kalangan para nabi dan orang-orang saleh; para wali Allah) untuk membantu memberikan bimbingan kepada orang-orang yang beriman yang sedang menempuh perjalanan spiritual (salik/sufi) menuju kepada Allah.  

Para sufi berkeyakinan bahwa Allah pasti menunjuki jalan-jalan-Nya. Allah swt telah berfirman atas Diri-Nya sendiri kepada orang-orang yang mengimani-Nya. “Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisaa : 26). 

Keyakinan atas ayat-ayat Allah menempatkan keimanan kaum sufi terus menempuh perjalanan menuju Allah azza wa jalla. Manusia yang berkeyakinan seperti kaum sufi mendudukkan Al-Quran sebagai petunjuk yang patut diikuti. Maka, Allah pun sangat mengetahui dan mengenalnya.  

Dalam perjalanan yang sangat penuh dengan cobaan dan rintangan itu, seorang sufi sangat berkeyakinan bahwa Allah pasti menolongnya. Dengan sandaran keyakinan seperti itulah Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan Al-Hikmah kepadanya. Dengan Al-Hikmah itu, kaum sufi menerima anugerah karunia yang banyak. Al-Quran menyebutkan:

"Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)" (QS. Al-Baqarah : 269).  

Di antaranya, dalam hal ini kaum sufi yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah itu, dianugerahi karunia mengetahui wilayah yang tak dapat dijangkau oleh penglihatan (mata) lahir. Telah tersingkapnya tabir yang menghalangi sang sufi dengan mawla-nya di hadirat-Nya. Inilah yang disebut Mukasyafah Sang Sufi

Dunia lahir sangat berbeda dengan dunia yang tak tampak. Setiap manusia yang hadir di dunia (lahir) ini pasti sepanjang tidak buta matanya dapat melihat semua yang dilihatnya dan mengetahui suara yang didengar oleh telinganya. Akankah semua manusia melihat dengan mata (lahirnya) setiap yang hadir di dunia yang tak tampak? Tidak. Semua manusia di wilayah lahir ini hanya menjangkau sesuatu dari yang sejauh mata mampu melihatnya dan mendengar sesuatu sebatas kemampuan telinga mendengarnya. Pengetahuan segala hal yang di luar lahir tak mungkin dapat dijangkau oleh mata dan telinga (lahir)-nya. 

Allah hanya menganugerahkan kemampuan 'melihat' dan 'mendengar' ke bagian dunia yang jauh dari penglihatan dan pendengaran lahir bagi mereka (para sufi) yang sudah mencapai derajat didekatkan (muqarrabin). Pendengarannya adalah pendengaran-Nya, penglihatannya adalah penglihatan-Nya. Bahkan gerak tangan, kaki dan anggota badannya adalah karena Allah. Mata (hati)-nya yang menjangkau, bukan penglihatan (lahir)-nya. Begitu juga dengan telinganya, yang menjangkau hanya pendengaran (hati)-nya, bukan telinga (lahir)-nya. Inilah anugerah yang 'dihadiahkan' oleh Allah kepadanya untuk menuju ke 'wilayah'-Nya. Al-Hikmah merupakan sebutan anugerah karunia kepadanya.

Baca: Pengajaran Al-Hikmah 

Perjalanan mereka belum selesai sebelum berjumpa dengan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Mukasyafah Sang Sufi adalah langkah awal tapak tilas di tataran kegaiban dalam menjemput anugerah puncak perjalanan di 'wilayah kekuasaan'-Nya. Allah Sang Maha Bijaksana senantiasa membimbing menuju cahaya-Nya untuk berjumpa dengan-Nya, Allah Yang Maha Mulia.
Selengkapnya >>>

Artikel Populer 7 Hari Terakhir